Sebuah cerita sederhana.......
SIDIQ
Karya:
Desita Putri Harjanti
Selayaknya
desa, kini kompleks perumahan itu terasa sepi. Tak ada lagi jerit riang
anak-anak, tak ada lagi suara pot pecah, teriakan penghuni kompleks pun nyaris
tak terdengar lagi. Para ibu kehilangan selera bercengkerama, para bapak
bersembunyi di balik pekerjaan mereka.
Suasana
tenang seperti itulah yang mereka inginkan. Menjalani hidup normal tanpa adanya
gangguan. Mereka seharusnya senang, mereka seharusnya bersyukur karena Tuhan
telah mengabulkan harapan mereka. Namun dalam hati mereka kecewa. Kekecewaan
dan penyesalan mereka tercium dari tiap sudut bangunan di kompleks perumahan
tersebut. Kejadian naas itu mengubah segala hal tentang kompleks kecil tersebut.
Memang
tak semua orang di kompleks merasa demikian. Setidaknya ada tiga orang. Tiga orang
yang merasa paling bahagia atas ketenangan ini. Tiga rumah yang merasa paling
menyesal, sesal yang menyembunyikan mereka dari orang-orang sekitar bahkan dari
kenyataan itu sendiri. Siapa mereka?
Seorang
wanita paruh baya yang selalu kehilangan pot-pot bunganya. Hanya pot tanah
liatnya, bukan bunga seharga kebutuhan hidup satu bulan-nya. Hanya pot-pot murah
dari pasar dan ia telah menaruh dendam yang tak sepantasnya. Memang kerusakan
pot-potnya itu menyebabkan ia harus berkali kali mengganti pot dengan yang
baru, berkali-kali menanam ulang bunga-bunganya dan meletakkannya di halamam
belakang yang berpagar agar tidak dirusak. Apa yang terjadi? Hari pertama
kompleks itu mendapat ketenangannya, ia pindahkan semua pot-potnya ke halaman
depan. Percaya bahwa tak akan ada yang merusaknya lagi. Dan memang benar, tak
ada lagi pot-pot yang pecah atau bunga yang dicabut dari tanahnya. Justru
sekarang wanita itu tak perlu lagi merawat bunga-bunganya. Kenapa? Karena
bunga-bunga telah hilang. Dicuri. Beberapa hari setelah hari naas itu.
Orang
berikutnya adalah pengusaha rumah makan padang yang selalu kehilangan kotak
uangnya. Kotak uang itu selalu menghilang dari laci meja disembunyikan di pojok
bawah meja tertutupi tong sampah. Ia sudah mengunci laci meja hingga tak ada
orang lain yang bisa mengganggu kotak uangnya, namun berulang kali ia
kecolongan, dah hal yang sama selalu terjadi. Kotak uang selalu berpindah ke
balik tong sampah. Pemilik rumah makan padang yang selalu mendapat keuntungan,
kini ia mengalami kerugian besar. Sejak hari pertama kompleks mendapatkan
ketenangannya, ia benar-benar telah kehilangan kotak uangnya. Berkali-kali.
Beberapa hari setelah hari naas itu.
Yang
terakhir adalah si gadis idaman yang kini tengah berbaring lemas di ranjang
kamarnya. Menangis. Betapa tidak? Ia baru saja kehilangan harga dirinya. Harga
diri seorang wanita yang tak terbayar harganya, direnggut oleh preman-preman
pasar yang tak beda dari binatang. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, kadang ia
berteriak-teriak seperti orang gila. Meneriakkan nama pelindungnya yang
menghilang. Benar, dulu si gadis selalu terlindungi dari orang-orang bejat
semacam itu tadi. Namun ia tidak mensyukurinya, ia membenci pelindungnya.
Pelindung yang selalu sedia mengikuti kemanapun gadis itu pergi, menyebabkan
pria-pria menjauhinya. Itulah sebabnya si gadis membenci pelindungnya. Kini ia
menyesal karena tak pernah bersyukur kepada Tuhan. Ya, ia tidak bersyukur dan
ia kehilangan harga dirinya. Beberapa hari setelah kejadian naas itu.
Kejadian
naas? Ya, semua orang di kompleks tahu betul seperti apa kejadiannya. Bahkan
orang luar juga tahu melalui berita televisi atau surat kabar. Kejadian naas
apa? Kejadian yang terjadi seminggu yang lalu. Yang memberikan ketenangan miris
pada sebuah kompleks perumahan.
Seperti
biasa, Sidiq berlalu-lalang di depan halaman rumah keluarga Gito yang dipenuhi
bunga-bunga mahal nan cantik. Setelah memastikan si penghuni tak berada di
sekitar halaman, Sidiq berjalan mengendap menuju sebuah pot dengan bunga indah.
Sidiq mengangkat pot itu dan mendekapnya. Ia memandang kagum akan bunga itu,
saking kagumnya dan ia pun melepaskan dekapannya. Pot yang terbuat dari tanah
liat itu jatuh ke tanah dengan bunyi yang cukup keras untuk memanggil
pemiliknya keluar.
“Sidiiiiiiiiiiq!!!!!”
Teriak Bu Gito garang dari dalam rumah, terdengar ia berlari menuju halaman
depan.
Tanpa
menunda waktu, Sidiq segera mengacak-acak pot-pot bunga yang lain, dan sebelum Bu
Gito mencapai pintu, Sidiq berlari keluar dari halaman yang kini porak poranda
itu. Ia bersembunyi di balik tugu di tepi jalan mengintip korbannya.
“Dasar
kau bocah sialan! Orang gila!” Bu Gito mengumpat sambil memunguti
bunga-bunganya. Sidiq meringis. Masih sambil meringis, Sidiq beranjak dari
tempat persembunyiannya ketika kemudian ia melihat Laura berjalan keluar dari
rumahnya.
“Lauraaaa!!!”
Teriaknya riang. Yang dipanggil hanya melengos dan berjalan menuju palang
kereta. Siqid mengikuti di belakang Laura. Ketika melawati sekelompok preman
pasar Sidiq bergaya seperti alhi bela diri, membuat risih para preman dan Laura
sendiri. Laura berhenti di dekat pos jaga gerbang sambil berkacak pinggang dan Sidiq
berhenti beberapa meter darinya. Ya, kompleks perumahaan itu berasa di seberang
rel kereta api. Laura berbalik dan menggertak Sidiq yang kini berada tepat di belakang
Laura.
“Tak
bisakah kau berhenti mengikutiku? Aku sama sekali tak suka kau mendekatiku,
tukang buat onar! Sekarang pergi! Pergi!!” Bentaknya kasar pada Sidiq. Sidiq
tersenyum, melambaikan tangan pada Laura kemudian berjalan pergi.
Di
perjalanan kembali menuju rumahnnya Sidiq melewati rumah makan padang milik Pak
Prapto. Tampak olehnya Pak Prapto tengan melayani pelanggan. Sidiq berjalan
menuju warung tersebut. Mengendap ke meja pembayaran dan membuka laci tempat
kotak uang disimpan. Gagal. Ia tertangkap basah.
“Hey!
Mau apa kamu, orang gila!” Terdengar suara wanita di belakangnya. Sidiq
mengenali suaranya. Dan memang benar, itu suara Bu Gito. Pak Prapto langsung
mengalihkan perhatiannya menuju Sidiq.
“Woy!
Mau maling kau ya! Dasar kurangajar!” Bentak pak Prapto kepada Sidiq. Seluruh
pengunjung warung menatapnya garang. Sidiq pun berlari keluar. Semua orang
mengerjarnya membawa senjata sambil beteriak, “maling! Maling!”. Sidiq
ketakutan ia menjerit-jerit tak tentu,
“Kotaknya
harus dipindah! Ada pencuri!” Katanya
“Ya,
kamu pencurinya!” Teriak warga
Sidiq
terus berlari dan warga terus mengejarnya. Ia menabrak Laura yang masih berdiri
di tepi palang, membuatnya marah hingga bergabung dengan warga yang lain. Sidiq
terpojok palang yang melintang di jalan dan warga sudah sangat dekat. Sidiq
panik, ia pun berbalik, menerobos palang dan meloncat ke atas rel hendak
menyeberang. Saat itulah peristiwa naas itu terjadi. Sebuah kereta melaju dan
menyeret tubuh Sidiq lenyap dari pandangan warga.
Seperti
pasir tersapu hujan semua warga terdiam, amarah mereka lenyap. Segala senjata
mereka jatuhkan. Ada yang menunduk, berlutut ada yang menangis. Yang pasti
semuanya merasa berdosa.
Televisi
dan surat kabar bisa mengatakan bahwa kematian Sidiq adalah kecelakaan, tapi
bagi warga kompleks, terutama bagi tiga orang. Ini bukanlah kecelakaan, tapi
pembunuhan. ÿ
0 comments:
Post a Comment