Doa
Karya: Desita Putri H
Seorang pria sedang menyanyi di depan kaca sebuah mobil mewah yang
berhenti di lampu merah. Suaranya tak begitu bagus, tetapi ia begitu menghayati
lagu yang ia nyanyikan. Dengan berbekal sebuak gitar tua ia menyanyikan lagu dengan senyum manis di bibirnya.
La la la la…… La la la la la
Senang rasanya bisa menyanyi untuk
orang lain. Membuat pendengar menikmati lagunya adalah sebuah hal terindah
yang ia dapat. Saat orang yang berada di dalam mobil itu membuka kacanya.
Hatinya berdebar penuh tanya, Bentakan, apa pujian?.
Ketika sebuah tangan terjulur dari kaca spion dan mengulurkan selembar
uang kepadanya, hatinya bergejolak riang. Tak peduli berapa nilanya. Namun
baginya, itu adalah anugerah dari tuhan yang maha kuasa.
Ya… Memang hanya itu
yang bisa ia dapatkan. Rejeki seorang pengamen.
Seharian penuh mengarungi jalanan. Tersengat panasnya terik matahari
di ibu kota. Menjelajahi satu tempat ke tempat lain untuk mengais rejeki. Tak
peduli apa kata orang. Toh itu memang sudah takdirnya. Hanya ini pekerjaan yang
bisa ia dapat. Pekerjaan yang tak memerlukan banyak uang, tak menghasilkan banyak uang pula. Pekerjaan yang tak
butuh kepandaian. Suatu pekerjaan pokok bagi mereka yang tak punya pendidikan
dan tempat tinggal. Pekerjaan paling utama bagi mereka yang sering disebut
‘Gembel’.
Ketika bertemu dengan orang yang derajatnya lebih tinggi dibanding dia.
Ia hanya bisa berkata dalam hati.
Aku ini hanya seorang pengamen, seorang pengemis yang tak akan
mungkin bisa seperti mereka. Ya…. Berdoa sajalah! Semoga suatu saat nanti, aku
bisa merasakan kehidupan yang sederajat dengan mereka.
Memang rejeki si pengamen tak seberapa. Ia selalu kekurangan, selalu kesusahan dan selalu kesakitan. Tetapi ia orang yang sabar.
Ia ucapkan doa setiap
harinya. Di jalan raya saat ia bekerja dan di emperan toko ketika ia hendak tidur. Dalam segala hal ketika ia
sedang merindukan dekapan Tuhan, ia berdoa.
Seperti biasanya, sebelum berangkat bekerja ia berdoa. Dalam doa dia
memohon agar diberi keselamatan, riski yang cukup dan umur panjang. Setelah
berdoa, ia melanjutkan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pria tersebut sedang menyeberangi jalan raya ketika sebuah mobil melaju sangat kencang. Mobil itu melaju tanpa mengurangi
kecepataan di jalan yang padat. Dalam sekejap mobil itu menyeret tubuh
seorang pria yang tengah menyeberang jalan.
Tubuh pria tersebut tersungkur di tepi jalan
akibat hantaman dari mobil yang melarikan diri dari kesalahan besar tersebut.
Tubuh itu tak bergerak. Darah mengalir deras tanpa henti dari raga yang telah
tak bernyawa itu. Banyak orang yang merubung jasad tersebut.
Si pengamen yang seselalu berdoa, berdiri di samping jasad pria tadi. Dalam hati ia bergumam, "Ya
Tuhan… Andai aku tak menapak di jalanmu. Pasti nasibku akan berakhir seperti
ini.”
0 comments:
Post a Comment