Sebelumnya maafkan keterus-teranganku di sini. Aku tidak akan berbicara formal (Karena memang kurasa tidak perlu). Ada kalanya aku ingin bercerita pada publik, tapi jejaring sosial (Facebook, Twitter, etc) bukan pilihan yang tepat menurutku. Jadi kumanfaatkan saja blog sederhana ini. ^_^
Allright. Enough with the chit chat!
Ketika aku masih kecil, (kalau tak salah SD sekitar kelas empat) alu pernah disuruh mengisi suatu biodata (entahlah apa aku lupa). Di sana terdapat sebuah kolom yang mengharuskan aku untuk menyebutkan hobiku dan alasan mengapa aku menyukainya. Tanpa ragu langsung kuisi: "Menghayal" alasannya: "Karena aku tidak punya sahabat sejati". Kontan setelah biodata kukumpulkan, aku ditertawakan oleh guruku. Tulisanku tadi dibacakan di depan kelas dan semua teman-teman menertawakanku. Sehari setelahnya teman-teman dekatku memusuhiku sampai sebelum ujian akhir semester (Mereka meminta maaf padaku karena takut tidak mendapat contekan).Setelah itu aku mengganti hobiku dengan membaca.
Aku bohong. Sampai saat ini pun hobiku masih menghayal. Membaca? Aku suka membaca, tapi kurasa tak sesering dan sesenang kelihatannya. Mungkin hal ini terdengar absurd. Tapi tidak buatku. Menghayal benar- benar menyelamatkan kewarasanku. Dan sekarang aku mengerti benar mengapa aku menuliskan alasan seperti itu saat SD dulu. Memang benar. Tak ada yang bisa membahagiakanku lebih dari apa yang "kepalaku" lakukan. Aku bisa mendapat apa pun, bisa menjadi siapa pun, dan bisa berada dimanapun yang aku inginkan. Apa pun. Dan aku tak peduli.
Dulu aku mengganti hobiku dengan membaca. Tapi sekarang aku tak perlu takut lagi untuk "mengembalikannya" seperti sedia kala.
Bagaimana dengan membaca? Aku masih suka. Aku masih mencintai buku.
Tapi untuk hobi, hanya "Kepalaku" yang kumau.
Thanks for reading this! \(^_^)/
Labels: My Opinion, Share
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment